Telah lama berlangsung adu argumen mengenai kekuatan pertahanan di seluruh dunia, apakah harus ditingkatkan atau diturunkan. Terdapat dua pendapat yang berkembang dalam mencapai cita-cita suatu negara, yaitu dengan mendahulukan “butter” atau kesejahteraan sosial dan kekuatan ekonomi, atau lebih mementingkan “guns” atau keamanan dan kekuatan pertahanan . Banyak yang berpendapat perdamaian dunia akan terjadi ketika seluruh dunia mengutamakan “butter” terlebih dahulu daripada “guns”.

Walaupun setiap negara menginginkan perdamaian, namun pandangan ini sebenarnya masih patut diperdebatkan. Setiap negara akan menterjemahkan perdamaian dengan bentuk dan tingkat yang berbeda-beda. Negara kaya tentulah berbeda pandangannya dengan negara berkembang. Bahkan yang terjadi saat ini, ketika suatu negara telah mencapai perekonomian yang maju, mereka justru menerjemahkan perdamaian dengan kekuatan pertahanan yang lebih besar. Kekuatan ekonomi harus dikawal dengan kekuatan pertahanan, demikian motivasinya. Jadi kekuatan ekonomi inilah yang tetap menjadi motif kekuatan angkatan bersenjatanya.

Walaupun berbagai pihak terus berteriak agar kekuatan ekonomi lebih diprioritaskan daripada kekuatan pertahanan, namun melihat fenomena yang terjadi saat ini, sepertinya mulai sedikit bergeser. Kekuatan perekonomian Asia khususnya Asia Tenggara begitu kuat dan terus merangkak naik, walaupun berbagai krisis mendera di berbagai negara benua Eropa maupun Amerika. Mereka menyadari bahwa sumber-sumber daya yang dimiliki perlu dijaga. Selain itu mulai muncul ambisi untuk menjadi yang terkuat di kawasan regional dan berpengaruh dalam pergaulan internasional. Hal ini mulai terasa sejak 2004 negara-negara di lingkungan strategis Indonesia meningkatkan militerisasinya untuk mendukung cita-cita bangsanya.

Bagaimana dengan pertahanan kita ? Di bulan yang indah ini ada baiknya kita merenung secara jernih, apakah militer Indonesia secara internasional telah berperan terhadap perdamaian dan secara nasional mendukung kesejahteraan sosial. Segala cercaan sejak awal reformasi membuat TNI kita gamang untuk melangkah maju. Seiring waktu, banyak peristiwa yang mencoreng wajah bangsa karena kemunduran kemampuan alat utama sistem pertahanan kita. Ketika sektor pertahanan meminta perhatian lebih, mereka akan diperhadapkan dengan kebutuhan yang dirasa lebih penting, yaitu kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan kesejahteraan lainnya. Perdebatan ini tidak akan ada habis-habisnya jika kita tidak melihat semua itu dari sudut pandang yang berimbang.

Kesejahteraan masyarakat (prosperity) tidaklah dapat diwujudkan tanpa adanya keamanan (security). Bapak ekonomi sendiri, Adam Smith, sebenarnya tidak mempertentangkan hal ini. Smith menyatakan negara perlu menyediakan keamanan sebagai barang publik karena tidak dapat disediakan oleh sektor swasta. Para pendiri bangsa melalui Pembukaan UUD’45 juga menyebutkan bahwa salah satu tujuan negara adalah memberikan perlindungan kepada segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Semenjak perang dingin berakhir pandangan tradisional mengenai ancaman memang telah berubah. Sebelumnya, ancaman dipandang secara tradisional karena ketakutan akan agresi negara lain. Akan tetapi pandangan tersebut saat ini telah jauh berubah. Untuk lingkungan strategis Indonesia, tidak mungkin terjadi perang secara besar-besaran karena perilaku agresif sangat dihindari. Jika demikian, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa angkatan bersenjata negara-negara tetangga kita justru meningkat akhir-akhir ini, bukannya menurun. Melihat fenomena ini, ada baiknya kita tidak terlena dalam pemikiran klasik bahwa “guns” tidak penting untuk diperhatikan. Apakah yang melatarbelakangi negara-negara sekitar kita memperkuat pertahanannya ?

Terdapat beberapa tujuan suatu negara membangun angkatan bersenjatanya. Jika berfikir untuk mempersiapkan suatu perang, alasan tersebut sudah jauh ditinggalkan di era modern ini. Peningkatan pertahanan sudah lebih diarahkan pada motif tujuan ekonomi dengan dua alasan utama. Alasan pertama adalah untuk mengeliminir ancaman baik eksternal maupun internal, dan kedua untuk mendukung secara langsung pertumbuhan ekonomi.

Ancaman eksternal adalah segala bentuk ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan bangsa, yang saat ini sering disebabkan oleh perebutan sumber-sumber daya penting dengan pihak-pihak atau negara lain.Tentunya untuk mengatasi ini dapat dilakukan dengan penyediaan persenjataan yang modern dan kemampuan tempur yang tinggi. Ancaman internal adalah perubahan-perubahan struktur dalam negara, baik itu struktur ekonomi, politik dan sosial budaya yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Untuk menjaga variasi ini tetap berjalan lancar tanpa gangguan, perlu institusi yang relatif stabil untuk menjaga dan mengawalnya.

Hirarki militer yang cenderung stabil dengan kewibawaan yang tinggi tentunya dapat menjaga perubahan struktur masyarakat dari waktu ke waktu. Ini terbukti walau telah berbagai era telah dilalui, baik orde lama, orde baru hingga reformasi saat ini dengan struktur masyarakat yang berubah-ubah, kegiatan-kegiatan ekonomi tetap dapat berjalan dengan baik, bahkan meningkat. Militer masih mampu mencegah atau mengeliminir ancaman eksternal dan internal agar pasar bekerja secara optimal dan sumber-sumber daya dapat diproduksi secara efisien.

Yang terpenting untuk menjawab keinginan masyarakat akan kesejahteraan sosial adalah, sektor pertahanan harus mampu mempengaruhi secara langsung pertumbuhan ekonomi. Hal ini dimungkinkan dengan meningkatkan industri pertahanan yang modern. Ada dua manfaat strategis dari industri pertahanan ini. Manfaat pertama adalah pemenuhan kebutuhan peralatan dan persenjataan dengan kekuatan sendiri, sehingga tidak terlalu khawatir akan embargo negara lain. Manfaat kedua adalah industri pertahanan harus dapat menggerakkan sektor-sektor lain dalam perekonomian, yang terutama adalah dari transfer dan pengembangan teknologi yang terus menerus dilakukan.

Industri pertahanan harus menyadari bahwa tugas utamanya selain untuk memenuhi kebutuhan peralatan dan persenjataan, namun juga sebagai garda terdepan dalam perkembangan teknologi. Teknologi modern merupakan barang yang sangat mahal sehingga tidak semua institusi swasta mampu menyediakannya. Industri pertahananlah yang bertugas mentransfer teknologi ini kepada generasi-generasi muda yang cerdas. Dengan demikian mereka dapat diserap pada industri ini dan tidak pindah untuk berkarya di negara lain.

Dari paparan di atas dapatlah disadari pentingnya sektor pertahanan. Mengucilkan pertahanan sendiri tidak hanya memberi efek umpan balik tetapi justru lebih memberi efek pukul balik terhadap perekonomian dan kesejahteraan sosial. Segala sesuatu yang terlanjur hilang tentunya tidak dapat diperoleh kembali, karena itu perlu kita jaga. Sektor pertahanan juga harus menyadari kemanfaatannya bukan hanya secara tradisional mengeliminir ancaman tetapi juga harus berguna untuk perekonomian. Pertahanan bukan lagi digunakan untuk berperang tetapi untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya kesadaran seperti itu diharapkan tidak ada lagi pertentangan mengenai mana yang lebih perlu “guns” atau “butter”. Dengan kekuatan keduanya yaitu kesejahteraan dan keamanan, tentunya perdamaian dengan lebih mudah dapat dicapai.